Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 16, 2025
Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang siswa bernama Rafi. Setiap pagi, ia harus berjalan lebih dari tiga kilometer untuk sampai ke sekolah. Jalannya tidak selalu mudah—kadang becek karena hujan, kadang berdebu saat kemarau. Tapi Rafi tidak pernah mengeluh. Ia selalu datang dengan senyum dan semangat di wajahnya. Suatu hari, bertanya-tanya, “Raf, kamu nggak capek setiap hari jalan sejauh itu cuma buat sekolah?” Rafi tersenyum dan menjawab pelan, “Capek sih, tapi aku tahu langkah-langkah kecil ini akan membawaku ke tempat yang lebih baik suatu hari nanti.” Rafi tahu, pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih cerah. Ia ingin meyakinkan orang tuanya dan membuktikan bahwa asal-usul bukanlah batasan untuk bermimpi besar. Ia rajin belajar, tidak malu bertanya, dan selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelas. Bertahun-tahun kemudian, kerja kerasnya terbayar. Rafi berhasil diterima di universitas impiannya dan mendapatkan beasiswa penuh. Saat ia kembali ke desanya, i...

Cahaya di Balik Jendela Tua

Di sudut sebuah kota yang ramai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Rian. Rian bukan anak yang pandai dalam pelajaran, dan setiap pagi, semangatnya untuk pergi ke sekolah terasa sekecil remah-remah roti. Ia sering merasa sekolah adalah tempat yang membosankan, penuh dengan angka-angka rumit dan tulisan yang harus dihafal. Suatu sore, saat Rian bermalas-malasan di rumah, neneknya yang sudah tua dan bijaksana duduk di ayahnya, menjahit sehelai kain batik yang sudah usang. “Nek, kenapa kita harus sekolah?” tanya Rian tiba-tiba dengan nada bosan. "Bukankah banyak orang sukses yang sekolahnya tidak terlalu tinggi?" Nenek Rian tersenyum lembut. "Rian, tahukah kamu apa itu jendela?" Rian mengerutkan kening. "Tentu saja tahu, Nek. Itu yang ada di dinding." “Benar,” kata Nenek sambil tangannya tetap lincah menggerakkan jarum. "Sekarang, bayangkan rumah kita ini. Dindingnya tebal dan tinggi, melindungi kita. Tapi, jika tidak ada jendela, apa yang terjadi?...