Cahaya di Balik Jendela Tua
Di sudut sebuah kota yang ramai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Rian. Rian bukan anak yang pandai dalam pelajaran, dan setiap pagi, semangatnya untuk pergi ke sekolah terasa sekecil remah-remah roti. Ia sering merasa sekolah adalah tempat yang membosankan, penuh dengan angka-angka rumit dan tulisan yang harus dihafal.
Suatu sore, saat Rian bermalas-malasan di rumah, neneknya yang sudah tua dan bijaksana duduk di ayahnya, menjahit sehelai kain batik yang sudah usang.
“Nek, kenapa kita harus sekolah?” tanya Rian tiba-tiba dengan nada bosan. "Bukankah banyak orang sukses yang sekolahnya tidak terlalu tinggi?"
Nenek Rian tersenyum lembut. "Rian, tahukah kamu apa itu jendela?"
Rian mengerutkan kening. "Tentu saja tahu, Nek. Itu yang ada di dinding."
“Benar,” kata Nenek sambil tangannya tetap lincah menggerakkan jarum. "Sekarang, bayangkan rumah kita ini. Dindingnya tebal dan tinggi, melindungi kita. Tapi, jika tidak ada jendela, apa yang terjadi?"
"Gelap, Nek. Kita tidak bisa melihat dunia luar," jawab Rian.
“Tepat sekali, Nak,” Nenek menghela napas. "Sekolah itu seperti jendela. Ilmu yang kamu dapatkan di sana adalah cahaya yang masuk. Mungkin pelajaran Matematika itu seperti bingkai yang kokoh, Sejarah adalah pemandangan masa lalu, dan Bahasa adalah cara kita untuk mendeskripsikan apa yang kita lihat."
Nenek meletakkan jahitannya dan menatap Rian lurus-lurus. "Tanpa jendela, kamu hanya akan melihat dinding rumahmu sendiri. Kamu mungkin aman, tapi kamu tidak akan tahu betapa luas dan indahnya dunia di luar sana. Kamu tidak akan melihat kesempatan-kesempatan, atau bahaya-bahaya yang harus kamu hindari."
"Bahkan jika kamu tidak ingin menjadi profesor atau ilmuwan, Nak. Sekolah memberikan kacamata untuk melihat dan peta untuk berjalan. Ia memberikanmu pilihan, kemampuan untuk membuka lebih banyak pintu."
Kata-kata Nenek menghujam hati Rian. Selama ini, ia hanya memandang sekolah sebagai kewajiban, bukan sebagai alat untuk melihat. Ia melihat buku-buku sebagai beban, bukan sebagai kunci untuk membuka jendela.
Keesokan harinya, saat bel sekolah berbunyi, Rian melangkahkan kaki dengan perasaan yang berbeda. Ketika guru menjelaskan tentang tata surya, Rian tidak lagi melihatnya sebagai material hafalan, melainkan sebagai jendela ke alam semesta yang menakjubkan. Saat dia membaca sebuah novel, dia merasakan itu adalah jendela kehidupan orang lain.
Sejak hari itu, semangat Rian berubah. Ia mungkin tidak langsung menjadi juara kelas, tapi ia datang ke sekolah dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia tahu bahwa setiap jam pelajaran, setiap halaman buku, adalah upaya untuk memperluas jendelanya, sehingga ia bisa melihat masa depan yang lebih cerah dan memilih jalannya sendiri dengan lebih bijak.
Pesan: Sekolah bukan sekedar tempat untuk mendapatkan nilai atau ijazah, melainkan tempat untuk mendapatkan “jendela” dan “cahaya” berupa ilmu pengetahuan yang akan membuka cakrawala dan memberikanmu pilihan serta kekuatan untuk menjalani hidup yang lebih baik. Jangan pernah malas membuka jendelamu!
Komentar
Posting Komentar